Dari menetapkan berbagai target hingga mensyukuri setiap hal.

Bagaimana menjadi pelari yang selalu termotivasi, lebih bahagia, dan bugar? Katanya dengan mengaplikasikan tujuh kebiasaan ini. Coba yuk. 

1/ Menetapkan berbagai tipe target
Ada dua tipe target: target hasil dan target proses. Target hasil sifatnya spesifik dan bisa diukur, misalnya meraih podium. Memikirkannya membuat kita bersemangat dan gugup pada saat yang sama. Sebaliknya, target proses mungkin tidak membuatmu segugup target hasil, namun kamu lebih bisa mengontrolnya, misalnya melakukan latihan kekuatan setiap hari. Semakin teratur kamu mencapai target hasil, semakin besar percaya dirimu. Mana yang lebih penting? Keduanya sama pentingnya. Karena itu, upayakan mencapai keduanya. 

2/ Menikmati proses
Banyak pelari yang mengganggap kebahagiaan hanya datang bila target tercapai. Ini bisa menimbulkan frustasi bila target tidak tercapai dan membunuh unsur fun di dalamnya. Meski lomba kerap dianggap sebagai puncak proses, faktanya proses itu tidak pernah berakhir. Belajarlah mengapresiasi setiap proses, menikmati fun-nya, dan mensyukuri setiap keberhasilan sekecil apapun.  

3/ Konsisten
Cara terbaik untuk menjadi terbaik adalah melakukannya dengan konsisten. Ini tidak hanya berarti rutin latihan, tapi juga menjadikan latihan seabgai bagian dari gaya hidup. Kalau sudah jadi kebiasaan, kamu akan melakukannya seolah seperti refleks dan tidak lagi mencari-cari alasan untuk menghindari. Ingat, sukses adalah buah dari melakukan suatu hal hari demi hari, minggu demi minggu.    

4/ Melakukan variasi latihan
Terbiasa lari cepat? Masukkan latihan dengan pace yang lebih lambat. Terbiasa lari di permukaan rata? Tambahkan latihan lari di tanjakan. Intinya, lakukan latihan dengan berbagai variasi kecepatan dan intensitas. Melakukan latihan yang itu-itu saja berpotensi menyebabkan kemandegan fisik dan psikis. Menambahkan variasi memberikan tantangan, unsur fun, dan membantu menghindarkan dari cedera overuse.  

5/ Serius menjalani pemulihan
Jangan jadi keras kepala dan menolak melakukan pemulihan. Masa pemulihan adalah masa dimana perbaikan terjadi. Betul sih, kamu butuh long run dan latihan kecepatan untuk keluar dari zona nyaman dan mencapai performa yang lebih bagus. Tapi tanpa istirahat, tidak saja kamu mengabaikan kesempatan bagi tubuh untuk beradaptasi terhadap stres dan memberi kesempatan sel-sel tubuh memperbaiki diri, kamu juga berpotensi kembali latihan dalam kondisi kelelahan atau cedera. 

6/ Utamakan kuantitas, bukan kualitas
Sebanyak apapun pun pengalaman larimu, tidaklah realistis mengharapkan personal best setiap kali kamu race. Karena itu, saat kamu merencanakan jadwal race, fokuskan pada beberapa race utama ketimbang mendaftar pada semua race yang ada. Lihat rekam jejak latihan dan race kamu. Dari situ, buat formula yang seimbang antara kualitas dan kuantitas. 

7/ Rayakan setiap keberhasilan
Apa yang kamu anggap kegagalan bisa jadi inspirasi bagi yang lain. Setiap garis finish layak mendapat perayaannya tersendiri. Jadi jangan pernah meremehkan pencapaianmu, sekecil apapun itu. Dan bila ada orang yang menyelamatimu setelah race, meski kamu tidak puas dengan performamu, syukurilah dan katakan terima kasih. 

Sumber: Running Competitor