Dari medan yang bersahabat hingga pemandangan indah menanti para peserta. 

Konsep wisata olahraga (lomba lari bertema wisata) tengah populer di negara kita. Berbagai daerah kini berlomba-lomba mengadakan lomba lari untuk mengampanyekan olahraga lari sekaligus mempromosikan wisata daerahnya. Salah satu adalah Borobudur Marathon. Dikutip dari situsnya, dikatakan bahwa 75 persen pertumbuhan sektor pariwisata buatan diperoleh dari wisata olahraga. Borobudur Marathon itu sendiri –kini bernama lengkap Bank Jateng Borobudur Marathon– tahun ini akan kembali diadakan yaitu pada Minggu 19 November 2017. 

Ada tiga kategori yang dilombakan yaitu 42K, 21K, dan 10K. Ketiganya start dan finish di Kompleks Taman Lumbini, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Area ini sudah tak asing untuk orang Indonesia dan bahkan wisatawan asing karena Candi Borobudur telah dikenal sebagai warisan budaya dunia. Menyambut Borobudur Marathon 2017, ketahui hal-hal yang akan menanti para peserta sesuai hasil perbincangan RUNNERid dengan Andreas Kansil, race director­-nya.   

1/ Medan yang bersahabat
Menurut Andreas, medan Borobudur Marathon terbilang cukup bersahabat dari awal hingga akhir. “Tidak ada satu bagian yang lebih banyak tanjakannya atau turunannya dibandingkan bagian lain. Artinya porsi tanjakan dan turunannya cukup merata.” Andreas  memberi gambaran bahwa km 0-15 cukup flat. Setelah itu rute mulai rolling hill dan terus demikian bahkan hingga km 35. 

2/ Seimbang panas dan teduh
Di Borobudur Marathon, peserta akan berlari menyusuri jalan besar, jembatan, dan kawasan pedesaan. Ini artinya sebagian rute akan menjadi cukup panas karena berada di jalan raya. Namun sebagian rute akan menjadi nyaman berkat naungan pepohonan di kanan-kirinya. 

3/ Wisata olahraga
“Siap-siap menikmati cantiknya alam sekitar Magelang,” ujar Andreas. Rute yang variatif membuat mata pelari akan disuguhi dengan pemandangan indah sepanjang jalan, mulai dari hamparan sawah menghijau, berbagai candi, hingga sungai yang melintas di bawah jembatan. “Secara khusus, untuk kategori 42K, pelari akan mendapati pemandangan Candi Borobudur di kejauhan saat melintasi km 7 dan pemandangan Gunung Sumbing di km 31. Untuk kategori 21K, peserta akan melewati Bukit Menoreh di pinggir badan jalan rutenya, hal yang tidak didapat peserta kategori lain,” jelas Andreas. 

Selain obyek wisata alam, peserta juga akan melewati obyek wisata buatan seperti Balai Ekonomi Desa (Balkondes). “Di Balkondes, pengunjung bisa menikmati hidangan masakan lokal rumahan, bisa ngopi, atau belajar mengasah kemampuan bermain gamelan. Fasilitas pendukungnya pun cukup lengkap, seperti lapangan parkir yang luas, toilet, mushola, hingga toko souvenir. Kami sarankan untuk berkunjung di luar waktu race untuk bisa menikmati segala yang ditawarkan di sana secara lengkap. Untuk Borobudur Marathon ini, Balkondes akan dijadikan water station yang akan dilewati peserta kategori 10K dan 42K,” jelas Andreas. 

4/ Selalu segar
Andreas merencanakan untuk menempatkan water station secara progresif. “Dari km 1-15, kami menempatkan water station per 2,5 km. Setelah km 15, per 2 km. Setelah km 35, yang artinya untuk peserta kategori 42K, water station ditempatkan per 1,5 km.” 

Selain water station, panitia juga menyedian fruit station dan sponge station. “Ada satu fruit station pada kategori 21K dan dua pada kategori 42K. Sedangkan sponge station, kami menyediakan di tiga lokasi untuk peserta kategori 42K saja. Harapan kami, ini semua bisa memenuhi kebutuhan refreshment pelari dan membuat pelari selalu bersemangat,” kata Andreas. 

5/ Berlari bersama pelajar                                                                     
Agar Borobudur Marathon memiliki dampak bagi lingkungan sekitar, panitia mensosialisasikan mengenai lomba tersebut ke masyarakat setempat, termasuk melibatkan pelajar SMP dan SMA dalam program latihan lari . “Borobudur Marathon berawal dari Borobudur 10K. Setiap tahun pelajar setempat diikutsertakan untuk berlomba dalam race tersebut. Tahun ini, kami tidak hanya ingin mengikutsertakan mereka untuk berlomba, namun juga memberikan pelatihan. Pelatihan ini termasuk program latihan lari dan edukasi etika lomba. Untuk itu, kami bekerjasam dengan PASI setempat dan komunitas Magelang Runners. Kami cukup senang bahwa latihan selalu berjalan konsisten. Harapannya, saat nanti mereka berlomba pada kategori 10K Borobudur Marathon, mereka menjadi lebih menjiwai dan antusias. Ini bagus juga untuk proses regenerasi dan menanamkan minat olahraga lari di kalangan pelajar,” jelas Andreas.