Sambut koleksi terbaru yang memiliki bantalan teringan ini.

Tahun ini, brand sepatu Hoka One One meluncurkan koleksi baru yang disebut Fly Collection. Salah satu serinya adalah Mach. Mach memiliki ‘gen’ Clayton –Clayton adalah seri yang dikenal sebagai seri peraih berbagai penghargaan. ‘Keturunan langsung’ dari Clayton ini memiliki tiga keunggulan yang sama yaitu bantalan maksimal, ringan, dan super responsif. Mach memiliki midsole PROFLY berdensitas ganda. Ini membuat pemakainya akan merasakan pijakan lembut dan daya pantul jari yang responsif. Sedangkan outsole RMAT-nya didesain untuk memberikan kontak yang ringan dengan permukaan dan daya tahan yang lebih baik.

Mau tahu pendapat pelari yang telah memakai Hoka One One Mach? Ini dia:

Inge Prasetyo, 2x Lolos Kualifikasi Kejuaraan Dunia Ironman di Kona, Hawaii
My first impression was "Wow, this is so light!" Mach sangat terasa seperti Hoka One One Clayton, mungkin versi yang lebih baik dari Clayton. I had some blister issue with Clayton. Sedangkan dengan Mach, saya telah memakainya untuk berlari paling jauh 15-20 kilometer (km) dan tidak ada lecet. Jarak itu sudah cukup untuk tes. Biasanya kalau memang tidak cocok, baru 5 km kaki sudah lecet.

About Mach, I really like the fact that they changed the mesh upper pattern to make it softer and more breathable (yet still give very good foot hold). Mach mungkin akan menjadi sepatu racing pilihan saya untuk jarak Ironman 70.3 atau lebih. Tahun lalu, saya memakai Hoka One One Clifton di beberapa lomba. Meski Clifton adalah sepatu yang bagus, saya lebih menyenangi sepatu yang lebih responsif dan less bouncy saat lomba. This time I will try to wear Mach for longer distance due to its responsiveness, lightweight-ness, and superior cushioning.

Ruth Theresia, Juara Berbagai Lomba Lari Lintas Alam
Awal-awal memakai Mach, pasti akan bilang bahwa sepatu ini keras. Saya pun demikian, apalagi sebelumnya saya terbiasa memakai Clifton yang bantalannya empuk. Tapi memakai sepatu, kan, memang butuh adaptasi. Saran saya, jangan langsung dicoba untuk lari jauh. Mulai bertahap; jarak pendek, menengah, lalu jauh. Kebetulan program latihan saya mencakup lari 10-15 km per hari. Ini sekaligus saya jadikan sarana adaptasi Mach. Setelah 30 mil, Mach pun menjadi fleksibel.

Mach ditujukan untuk lari di jalan raya. Namun, saya mendapati bahwa Mach juga bisa dipakai di medan yang semi-road, seperti tanah. Dengan demikian, saya bisa memakainya untuk lari lintas alam di medan yang tidak terlalu teknikal, misalnya di area sekitar Taman Hutan Raya Djuanda, Bandung.

Keunggulan lain adalah bantalannya responsif sehingga transisi dari Clifton lebih mudah dan kaki tidak mudah lelah. Yang saya juga senangi dari Mach adalah upper­­-nya berbahan knit. Knit upper membuat kaki terasa lebih dinamis dan lebih mudah bernapas. Lebih mudah bernapas artinya kaki tidak mudah lembab dan cepat kering. Warnanya pun menarik, merah-putih; warna Indonesia banget.

Belanja koleksi Hoka One One Mach di sini.