Agar terhindar dari cedera dan membuat lari jadi efisien.

Meski olahraga lari ‘dilakukan’ oleh kaki, faktanya penting juga untuk memperhatikan tubuh bagian atas. Bahkan, postur tubuh secara keseluruhan memiliki andil membuat larimu lebih efisien dan minim cedera. Dikutip dari blog ASICS, berikut yang perlu kamu ketahui tentang postur lari yang tepat.

Leg length inequality
Memiliki postur lari yang tepat adalah sesuatu yang bisa dilatih. Namun di balik itu, ada juga faktor yang sifatnya bawaan, seperti ketidaksimetrisan tubuh manusia. Sebanyak 95 persen orang di dunia punya satu kaki lebih panjang daripada kaki satunya (leg length inequality) –jadi ini hal yang umum, kok.

Sayangnya, dalam studi yang dilakukan oleh institusi bernama Sub-4 Human Performance Lab terungkap bahwa sebagian besar cedera yang dialami pelari adalah cedera berulang  akibat ketidaksimetrisan tubuh manusia. Faktanya, berlari dengan kondisi leg length inequality di permukaan aspal –ini adalah adalah permukaan yang paling umum ditemui oleh pelari jalan raya–memang bisa meningkatkan risiko cedera. Aspal punya pengembalian energi sebesar 100 persen. Gelombang benturan yang dikirimkan aspal kembali ke telapak kaki, kaki, dan punggung bagian bawah itulah yang berpotensi meningkatkan risiko cedera.

Terhadap kondisi ketidaksimetrisan ini, tubuh punya cara yang spesifik untuk menghadapinya. Tubuh akan menggunakan kaki sebagai serangkaian tuas dan panggul sebagai alat kompensasi agar kita bisa bergerak secara efektif. Secara keseluruhan, ketidaksamaan panjang kaki dikompensasi oleh telapak kaki, kaki, panggul, dan tubuh bagian atas. Tapi, bisa bergerak (secara efektif sekalipun) bukan berarti bebas cedera. Bahkan faktanya, kompensasi berlebihan yang dilakukan tubuh sebagai cara adaptasi malah bisa meningkatkan risiko cedera , terutama bila kompensasinya sudah sangat berlebihan.

Ciri ketidaksimetrisan
Beberapa hal berikut bisa menjadi ciri ketidaksamaan panjang kaki:
1/ Sepatu sebelah kiri lebih aus daripada sepatu sebelah kanan (atau sebaliknya).
2/ Nyeri berulang pada telapak kaki, lutut, pinggul, atau punggung bawah saat lari.
3/ Terasa ada ketidaksimetrisan postur.
4/ Tubuh cenderung condong ke satu sisi saat lari.
5/ Satu kaki diayunkan ke luar (outwards) saat lari.
6/ Cedera berulang pada satu sisi tubuh.
7/ Nyeri punggung bawah saat beraktivitas, terutama saat menekuk ke depan.

Ciri-ciri di atas bisa saja terjadi bahkan bila panjang kedua kaki sama. Namun demikian, tidak ada salahnya untuk selalu memperhatikan bagaimana tubuh bergerak saat berlari. Semakin cepat kamu menyadari ada perubahan baru, baik pada tubuh maupun pada sepatu yang kamu kenakan, semakin cepat kamu bisa mengatasi masalah tersebut sebelum menjadi makin besar. Di luar itu, risiko cedera dapat diturunkan dengan mengenakan sepatu lari yang bisa menyerap benturan dengan baik.

Ketidaksimetrisan memang faktor bawaan alias tidak bisa dikendalikan. Namun kamu bisa mengendalikan postur lari –dengan melatihnya– agar efektif dan minim cedera. Ingin tahu seperti apa? Nantikan pembahasan tentang postur berlari, segera.