Training log bermanfaat membantu pelari memantau kemajuan latihannya. Ini tiga cara mudah memulainya. 

Training log adalah catatan yang berisi detil informasi latihan yang kamu jalani. Misalnya, hari ini saya merasa nyaman long run 15 km dengan pace 8:00 selama 2 jam menempuh jalan Sudirman-Thamrin. Penulisan informasi seperti ini memiliki banyak manfaat, mulai dari memudahkanmu memantau kemajuan latihan, sarana evaluasi, hingga sebagai dokumentasi ‘karir’ lari. Yuk, sisihkan waktu untuk merefleksikan latihanmu dan mencatatnya dalam training log. Sebelum mulai, ini yang perlu kamu tahu. 

1/ Cantumkan hal yang penting
Data yang tercantum sebaiknya tidak saja yang bersifat kuantitif tapi juga kualitatif. Data kuantitatif misalnya jarak, pace, durasi, rute, detak jantung, jumlah jam tidur, dan waktu mulai berlari. Sedangkan yang kualitatif misalnya deskripsi rute (banyak tanjakan, lari di aspal), cuaca (panas menyengat, sejuk adem), feel yang dirasakan saat lari (berat, nyaman, enteng), hingga stress yang tidak biasa. 

Menurut Andri Yanto, coach dan pemerhati lari, penting untuk mencantumkan lingkungan saat mulai  berlari. “Di negara tropis seperti Indonesia ini, suhu cenderung panas dan kelembaban umumnya tinggi. Karena itu, hasil antara lari pagi vs. lari malam bisa berbeda drastis. Saat lari pagi, detak jantung, suhu, dan kelembapan cenderung lebih rendah. Hal ini biasanya membuat upaya saat lari pagi lebih ringan. Pada malam hari, selain suhu dan kelembapan lebih tinggi, tubuh pun cenderung sudah letih. Ini membuat lari malam lebih berat.” 

Mencatat hal detil seperti ini akan menggambarkan aktivitas secara komprehensif. “Istilahnya data menjadi ‘hidup’,” jelas Andri. Ini juga akan menghindarkan kita dari kekeliruan membaca data, membantu menemukan kendala, dan mencari solusinya. “Untuk kasus lari malam, misalnya, usahakan lari pukul 4-6 sore,” saran Andri. 

2/ Pilih metodenya
Ada dua pilihan. Pertama adalah metode online yaitu mencatat hasil latihan dalam aplikasi. Ada banyak aplikasi yang bisa dipakai, mulai dari yang terkait dengan jam GPS seperti Garmin Connect hingga aplikasi umum seperti Runkeeper.  “Plusnya, aplikasi seperti ini sudah memuat data dasar yang bersifat kuantitatif seperti jarak dan pace. Selain itu, karena terkoneksi dengan ponsel maka dapat dilihat kapan saja,” jelas Andri. “Minusnya adalah minim data kualitatif seperti feel yang dirasakan. Ini yang sebaiknya ditambahkan agar data menjadi komplit.” 

Kedua adalah metode offline yaitu menuliskan hasil latihan secara tertulis dalam jurnal. Bagi jurnal menjadi dua kolom yaitu kolom rencana latihan dan kolom latihan yang dijalankan. Hal ini akan memudahkan pemantauan. Menurut Charles Duhigg, penulis buku The Power of Habit yang juga pelari, membiasakan diri menulis bisa membawa kepada kebiasaan yang positif. “Keuntungan lain adalah ketimbang harus menyalakan komputer atau melihat layar ponsel sebesar 5-6 inch, jurnal lebih praktis karena yang perlu dilakukan hanyalah meraih dan membolak balik halamannya,” tambah Andri. Letakkan jurnal di tempat yang mudah terlihat agar kamu ingat untuk menulisnya setiap selesai latihan. 

Apapun metodenya, kuncinya konsisten. Yang pasti, pilih metode sesuai preferensimu  dan jangan sampai terasa seperti rutinitas kosong. Sisihkan juga waktu untuk dengan aktif menganalisanya. Dengan begitu, bahkan meski kamu tidak menyelesaikan seluruh latihan karena, misalnya, kesibukan kerja, kamu masih bisa melihat latihan yang telah dijalankan dan membuat penyesuaian agar tetap bisa meraih target. Training log juga bisa menjadi tempatmu berpaling saat merasa stuck. Meski sedikit, pasti ada kemajuan. Ini bisa menjadi dorongan semangat. 

3/ Tetapkan target
Tetapkan targetmu, catat, lalu katakan pada teman. Tergantung pada jenis jam GPS dan tipe aplikasinya, pemakai training log yang online bisa memasukkan targetnya pada jam atau aplikasinya. Bagi pemakai training log yang offline, target dituliskan dalam sebuah jurnal. Menurut studi dari Gall Matthews, guru besar psikologi di Dominican University of California, menulis akan mengaktifkan otak dan memberi sinyal bahwa hal ini penting. Orang yang menuliskan targetnya mampu mencapainya dengan lebih signifikan daripada yang hanya memikirkan tanpa menulisnya. Sebagai tambahan, masih menurut studi tersebut, bila target tersebut diinformasikan ke teman dan ia secara mingguan mengecekmu, terjadi peningkatan pencapaian target dari 43 hingga 76 persen. 

Satu hal yang patut diingat: Tetapkan target yang realistis. Itu artinya kalau kamu tidak punya dasar daya tahan yang baik dan tidak rutin berlatih, jangan berharap bisa finish maraton di bawah empat jam. Selain itu, ada baiknya kamu menetapkan tiga jenjang target, dimulai dari yang paling ideal hingga kurang ideal. Tujuannya bila kamu melesat dari target utama, masih ada cadangan target. Misalnya, target utama finish di bawah enam jam, target selanjutnya finish sebelum cut off time, target terakhir adalah just finish.