Ini do’s and don’ts mencari teman lari dan berlari bersama mereka.

Lari dipandang sebagai olahraga yang soliter. Padahal kamu bisa makin menikmati lari bila melakukannya bersama teman-teman. Sudah banyak komunitas lari yang bisa kamu ikuti kini. Tapi bila kamu berniat membangun grup larimu sendiri, ini do’s and don’ts-nya:

Do: Cari minimal tiga orang teman
Sebagai langkah awal, tak usah bayangkan bisa kumpulkan banyak-banyak pelari. Cukup minimal tiga orang teman. Dengan demikian, setidaknya kamu selalu punya teman lari. Berlari bersama teman membuatmu lebih mudah mengatasi tantangan mental (seperti malas bangun pagi) dan fisik (misalnya kelelahan akibat long run).

Do: Rotasikan kepemimpinan
Bila sudah ada lebih banyak pelari, tunjuk dua atau tiga orang sebagai kapten. Tugasnya adalah merencanakan, mengatur, dan memimpin lari bersama setiap minggunya secara bergantian. Saat merencanakan rute, perhatikan hal seperti jarak, keamanan, dan tingkat kesulitannya. Perhatikan juga titik break minum dan ketersediaan warung sebagai ‘water station’ atau perlukah membawa minum sendiri. Membawa ponsel sifatnya opsional, tapi kapten yang bertugas wajib membawa ponsel dalam keadaan fully charged, sebagai tindakan berjaga-jaga.

Do: Tentukan jadwal rutin
Jadikan lari bersama sebagai jadwal kegiatan rutin, misalnya setiap Rabu malam pukul 19.00, dan konsistenlah pada jadwal tersebut. Kebanyakan pelari hobi adalah pelari kantoran. Menetapkan jadwal yang konsisten membantu pelari kantoran memasukkan jadwal lari tersebut ke dalam jadwal mingguannya.

Don’t: Mengubah pace
Cari teman lari yang pace-nya tak jauh beda denganmu. Kalau lebih cepat, itu sama saja dengan meningkatkan risiko cederamu. Lebih lambat, kemampuanmu kurang ditantang. Untuk memastikan kamu berlari di pace yang sesuai, pastikan kamu bisa berlari sambil mengobrol (pace seperti ini kerap disebut conversational pace.

Don’t: Memakai headphones atau earphonse
Inti dari lari bersama teman adalah lari sambil mengobrol bersama mereka. Ini terutama berlaku bla kamu lari bersama teman baru, yang tentu mereka akan merasa lebih diterima bila diajak mengobrol. Meski demikian, ini bukan berarti kamu harus terus-terusan berlari sambil mengobrol. Tapi dengan tidak memakai headphones atau earphones, kamu menunjukkan body language keterbukaan dan siap menerima teman baru.

Sumber: Runner's World